INDRAMAYU KECE – Dampak musim kemarau mulai memukul Kabupaten Indramayu, salah satu daerah lumbung pangan nasional. Sebanyak 10.673 hektare areal tanaman padi di wilayah ini kini berada dalam kondisi kritis dan terancam puso atau gagal panen akibat kekeringan ekstrem. 

Kekhawatiran mendalam kini menyelimuti para petani. Jika pasokan air tidak segera dialirkan ke sawah-sawah mereka, gagal panen massal dipastikan tinggal menunggu waktu. Kondisi ini berpotensi besar memangkas produksi padi daerah secara signifikan. 

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa belasan ribu hektare lahan yang terancam puso tersebut tersebar di enam kecamatan wilayah Indramayu barat. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Sukra, Patrol, Anjatan, Bongas, Gabuswetan, dan Kandanghaur. 

“Areal terdampak kekeringan yang paling luas berada di Kecamatan Sukra,” ujar Sutatang, Selasa (21/7/2026). 

Sutatang merinci, dari total 3.445 hektare sawah di Kecamatan Sukra, sebanyak 2.500 hektare di antaranya sudah terdampak kekeringan. Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Patrol, di mana kekeringan melanda 2.100 hektare dari total 3.175 hektare lahan. Sementara di Kecamatan Anjatan, 2.000 hektare dari total 6.150 hektare sawah juga mulai mengering. 

Krisis air ini pun meluas ke Kecamatan Bongas yang mencatat 500 hektare lahan terdampak dari total 5.000 hektare. Di Kecamatan Gabuswetan, dari total 6.740 hektare sawah, ada 1.573 hektare yang mengalami kekeringan. Sedangkan di Kecamatan Kandanghaur, sebanyak 2.000 hektare dari total 5.400 hektare lahan kini kondisinya gersang. 

Situasi ini kian mengkhawatirkan karena usia padi di wilayah-wilayah tersebut masih sangat muda. “Umur tanaman padi di wilayah itu rata-rata baru berkisar antara 7 sampai 25 hari,” terang Sutatang. 

Selama ini, pasokan air untuk areal persawahan di Indramayu barat bergantung pada Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, dengan titik pembagian air berada di Bendung Salamdarma. Merespons kondisi kritis ini, KTNA Kabupaten Indramayu bersama pengurus dari enam kecamatan terdampak telah bergerak cepat mengajukan permohonan audiensi dengan Unit Pelayanan Irigasi.

Para petani berharap ada tindakan darurat yang cepat nyata untuk menyelamatkan tanaman mereka. “Petani meminta air dari Bendung Salamdarma segera digelontorkan. Jika tidak, puso tidak akan bisa dihindari,” tegas Sutatang. 

Berdasarkan pantauan di Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, kondisi di lapangan memang cukup memprihatinkan. Tanah di area persawahan terpantau sudah pecah-pecah dan mengering akibat absennya pasokan air dalam waktu lama. Kendati demikian, tanaman padi yang tumbuh di atasnya masih terlihat hijau. Hal ini menandakan masih ada harapan besar untuk menyelamatkan tanaman tersebut jika bantuan air datang dalam waktu dekat.