INDRAMAYU KECE - Harapan para petani di Kecamatan Sukra untuk melewati musim tanam gadu dengan tenang mendadak sirna. Di saat air menjadi komoditas paling berharga untuk mengairi petak-petak sawah yang mulai mengering, kabar buruk justru berembus dari sektor pertanian. Mesin-mesin pompa air bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) RI bersumber dari APBN 2026, yang baru saja diandalkan untuk menyambung hidup tanaman padi, raib digondol maling.

Tidak tanggung-tanggung, aksi pencurian ini melanda tiga desa sekaligus secara hampir bersamaan: Desa Sukra, Desa Bogor, dan Desa Tegaltaman.

Bagi Kabupaten Indramayu, yang menyandang status terhormat sebagai lumbung pangan nasional, hilangnya mesin-mesin ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ini adalah ancaman nyata bagi stabilitas ketahanan pangan. Tanpa pasokan air yang dialirkan oleh mesin-mesin tersebut, produktivitas padi terancam anjlok, dan dampaknya bisa merembet hingga ke skala nasional.

Tiga pemimpin desa di Kecamatan Sukra, Kuwu Bogor Yoman Gunawan, Kuwu Tegaltaman Makrus Hadi Prayitno, dan Kuwu Sukra Marhamah hanya bisa mengelus dada. Mereka membenarkan bahwa mesin pompa air merk Yanmar 11 PK yang baru dialokasikan tahun ini telah hilang dari tempatnya.

Melihat rapinya eksekusi di lapangan, para kuwu menduga aksi ini bukan kerjaan amatir. "Aksi pencurian ini tampaknya dilakukan oleh orang atau komplotan yang sudah berpengalaman dan sangat pintar membaca situasi," ungkap mereka cemas.

Langkah hukum pun langsung diambil; pemerintah desa telah resmi melaporkan kehilangan ini ke Polsek Sukra.

Jeritan paling menyedihkan tentu datang dari para petani di akar rumput. Hilangnya mesin pompa berarti berhentinya total operasional pasokan air irigasi.

"Kami berharap pihak Kepolisian segera mengungkap kasus ini karena dampaknya akan sangat besar bagi pertanian di Kecamatan Sukra," tegas Kuwu Sukra, Marhamah, dengan nada getir pada Kamis (29/10/2026).

Rasa frustrasi yang sama disuarakan oleh Raksa Bumi Desa Sukra, Winara. Menurutnya, hilangnya mesin pompa ini terjadi di waktu yang paling krusial.

“Saat ini, mesin pompa air itu sangat dibutuhkan para petani untuk terus bertahan sampai panen tiba,” tutur Winara singkat, menggambarkan betapa vitalnya alat yang kini entah berada di mana.

Kini, nasib ribuan hektare sawah di Sukra bergantung pada kecepatan aparat kepolisian berburu dengan waktu sebelum padi-padi itu kekeringan, pelaku harus segera diringkus, dan detak mesin pompa harus kembali terdengar di pematang sawah. (Daniswara)